Ibu yang Tega Menjerumuskan Anaknya

Ibu yang Tega Menjerumuskan Anaknya

Ketika berangkat kerja, sambil mengantar anak-anak ke sekolah. Saya lihat seorang ibu memboncengkan anaknya yang sudah SMA. Saya terbelalak dan sangat terkejut anak yang diboncengkan ibu itu sedang merokok. Selama ini saya berpikiran jika ada anak merokok khususnya yang seusia SMP atau SMA pasti berbohong pada orang tuanya. Masih dalam pikiran saya, orang tua mana sih yang mau jika anaknya yang seusia SMP atau SMA minta uang untuk beli rokok. Alhasil, biasanya anak yang merokok, tidak sedikit yang menyelewengkan uang yang mestinya untuk membayar sekolah (SPP). Atau bahkan mungkin mintanya uang untuk membeli makanan atau minuman. Jelas hampir anak perokok seusia SMP atau SMA biasanya pembohong atau tukang curang.

Ini masih dalam kerangka pikiran saya jika anak mulai merokok sebenarnya ini salah satu pintu menuju minuman keras atau narkoba. Walaupun tidak semua anak perokok itu terjerumus minuman keras dan narkoba. Tapi hampir pecandu minuman keras dan pecandu narkoba dimulai dengan merokok.

Kembali kepada sang ibu tadi. Masih dalam kerangka pemikiran saya, e ya kok tega-teganya ibu ini memberi restu untuk menjerumuskan anaknya. Yang jika tidak hati-hati ujung-ujungnya ya anaknya akan terjebak dalam miras dan narkoba. Saya tidak habis pikir, yang ada dalam benak ibu itu apa kok ya sangat santai memboncengkan anaknya sambil merokok. Andai ada 1000 ibu yang mungkin saya temui, ini bangsa ini mau jadi apa? Bagaiamana jika 1.000.000.? Na’udzubillahi min dzalik.

Salah Kaprah dan Salah Pemahaman di Sekitar Hari Raya Idul Fitri

Salah Kaprah dan Salah Pemahaman di Sekitar hari Raya Idul Fitri

(1) Kesalahan Makna Ucapan : Minal ‘Aidin Wal Faizin. ( من العاءدين و الفاءيزين )

Ucapan  Minal ‘Aidin Wal Faizin sering diartikan Mohon Maaf dan Batin. Sebenarnya terjemahan ucapan Minal ‘Aidin Wal Faizin adalah dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Mungkin maksud lengkapnya adalah: ”Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Allah) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu).” Yang juga perlu diketahui ucapan Minal ‘Aidin Wal Faizin tidak terdapat dalam Alquran dan As Sunah (Al Hadis). Ucapan ini hanya dibuat para ulama saja.

Sedangkan di hari Raya Idul Fitri para sahabat Rasulullah biasa mengucapkan kalimat Taqabalallaahu minnaa wa minkum di antara mereka, artinya semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan. Para sahabat juga biasa menambahkan: shiyamana wa shiyamakum, semoga juga puasaku dan kalian diterima Allah swt.

(2) Kesalahan Berjabat Tangan kepada yang Bukan Muhrimnya

Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba orang saling bermaaf-maafan dengan berjabat tangan. Mereka dengan khusyuk saling memaafkan, bahkan para artis dan selebritis tidak sedikit yang diikuti dengan cipika cipiki (cium pipi kanan dan cium pipi kiri). Jelas sekali maksudnya sebenarnya baik saling memaafkan supaya dosanya bias terhapus di Hari Raya Idul Fitri setelah satu bulan puasa Ramadhan. Tapi apakah benar tradisi saling berjabat tangan tersebut. Ternyata justeru kita memulai membuat dosa dengan berjabat tangan kepada orang yang bukan muhrimnya apalagi diikuti cipika cipiki. Rasulullah telah mengisyaratkan kepada kita :

  1. ” Lebih baik ditembus dengan besi yang panas dari dubur sampai kepala nya daripada harus menyentuh wanita yang bukan muhrim-nya ” (HR. At Tirmidzi)
  2. ” Lebih baik berdesakan dengan babi yang berlumuran lumpur dan berbau busuk dari pada harus berdesakan dengan wanita yang bukan muhrim-nya ” (HR. At Tirmidzi)
  3. Dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.Artinya : Andaikan ditusukkan ke kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum besi, yang demikian itu lebih baik daripada dia harus menyentuh wanita yang tidak dibolehkan baginya . (Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Al-Kabir XX/211 dengan isnad hasan.

(3) Ba’da Kupat (Hari Raya Ketupat)

Pada tanggal 8 Syawal sebagian besar masyarakat Jawa merayakan Ba’da Kupat (Hari Raya Ketupat) entah kapan tradisi ini dimulai. Kalau kita runut kepada Hadis tentang disunahkannya puasa Sunah 6 hari di bulan Syawal.

Dari Abi Ayub ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa melaksanakan puasa bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka berarti dia telah melakukan puasa setahun penuh ” (HR. Muslim dan Abi Dawud)

Dari hadis di atas jelas bahwa kita disunahkan puasa 6 hari di bulan Syawal. Lalu apa kaitan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal dengan Ba’da Kupat? Ini masih dugaan saya mungkin para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa ini belum sempat menjelaskan saja kepada umat ini. Kalau kita perhatikan puasa Syawal 6 hari berarti dilakukan tanggal 2, 3, 4, 5, ,6 , dan 7 Syawal. Berarti tanggal 8 Syawal Hari Raya (Ba’da Kupat). Jadi, sebenarnya ba’da kupat ini untuk merayakan bagi orang-orang yang puasa Syawal 6 hari. Ironisnya justeru kebanyakan yang merayakan Ba’da Kupat ini tidak pernah melakukan puasa Syawal 6 Hari. Mestinya yang lebih berhak merayakan Ba’da Kupat ini adalah orang-orang yang melaksankan puasa 6 hari di bulan Syawal. Yang perlu lebih menjadi catatan jangan sampai kalau tidak kupatan kita berdosa, karena kupatan memang tidak ada tuntunannya dalam Alquran dan As Sunah.

Mungkin boleh boleh saja ba’da kupat itu dilestarikan hanya sebagai penanda bahwa kita disunahkan melakukan puasa 6 hari di Bulan Syawal. Kalau belum mampu melaksanakan mulai tanggal 2 atau pekan-pekan awal karena makanan memang masih sangat menggiurkan. Baru pekan kedua dan seterusnya dapat melaksanakan sunah puasa Syawal ya dianggap saja Ba’da Kupat untuk DP merayakan puasa Syawal kita. Karena Ba’dan dulu baru puasa.

(4) Menunda Meminta Maaf Hingga Hari Raya Idul Fitri

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (3. Ali ‘Imran ayat 133-134)

Sebenarnya dari ayat di atas jelas bahwa kita diperintah bersegera memminta maaf. Jangan menunda nunda harus menanti hari raya Idul Fitri. Kebiasaan orang menumpuk kesalahannya baru di hari raya Idul Fitri kita menumpahkan kesasalahan tersebut untuk dapat dimaafkan.

(5) Euphoria yang Berlebihan

Setelah selesai Ramadhan sering kita merasa lepas dari penjara. Yang tadinnya kita selalu ngerem untuk ghibah, berkata kotor, berbuat jahil. Kita kayaknya langsung Euphoria kayak bebas untuk melalukan kesalahan-kesalahan tersebut. Perbuatan dan amalan yang baik yang kita lakukan di bulan Ramadhan ikut ludes dengan masuknya bulan Syawal, padahal mestinya bulan Syawal itu merupakan bulan peningkatan. Dan tujuan puasa kita mestinya adalah la’alakum tattaqun supaya menjadi orang taqwa dalam arti tiap tahun ketaqwaaanya selalu meningkat. Jangan sampai apa yang telah diupayakan dan dicapai di bulan Ramadhan seperti tilawah (tadarus), qiyamul lail, sadaqah, setelah bulan Ramadhan habis maka ikut habis juga. Semoga kita termasuk orang-orang yang ketaqwaannya meningkat dan senantiasa diberi keistiqamahan. Amin ya rabbal ‘alamin.

Menulis Tiada Batas

Menulis Tiada Batas

Sesungguhnya Apa yang Ingin Kamu Cari? (Bagian 2)

Semangat ibadah di bulan Ramdahan sungguh tak terbendung, masjid-masjid, surau-surau, mushola-mushola penuh sesak dengan jamaah. Kegiatan keagamaan dari Tausyiah Subuh dan Tarwih, Tadarus Al-Qur’an, sampai I’tikaf sungguh semangatnya luar biasa.  Dan sudah semestinya patut kita bersyukur Alhamdulillah, paling tidak di Bulan Ramadhan kita lebih jarang mendengar orang yang berkata kotor atau ghibah. Lalu apakah yang akan kita cari di bulan Ramadhan : lailatul qadar, tambahnya kualitas taqwa, atau kembali kepada kefitrian (kembali suci)

Di Bulan Ramadhan yang yang merupakan  bulan penggemblengan, bulan pendidikan (syahrul tarbiyah), bulan pensucian diri (syahrul tazkiyah). Kita gembleng diri kita agar meningkat baik jasadiyah, ruhiyah, dan fikriyah kita. Kita beri’tikaf sepuluh hari terakhir untuk menyongsong malam lailatul qadr yang kebaikannya sama dengan 1000 bulan (83 tahun). Kita sudah bersusah payah melakukan i’tikaf, dan sudah semestinya semuanya kita lakukan dengan ikhlas. Bagian i’tikaf ini  yang memang tidak semua orang punya kesempatan sebab budaya kita memang belum bisa full, sebab intansi atau perusahaan di Indonesia tidak meliburkan di 10 hari terakhir Ramadhan.

Dengan puasa, makan  kita akan teratur, ya kalau diandaikan kayak mobil ya turun mesin begitu. Jadi baik rukiyah (jiwa) dan jasadiyah (badan) kita betul-betul jadi fresh (segar) kembali. Apabila kita melakukan puasa dengan benar dan makan makanan yang betul-betul halal dan thoyib (bergizi), dan yang pasti jika buka segara berbuka dan mengakhirkan sahur. Maka insya Allah rukiyah dan jasadiyah kita akan kembali segar.

Semua orang berharap setelah puasa Ramadhan dan memasuki tanggal 1 Syawal (hari Raya Idul Fitri) dirinya kembali suci setelah bermaaf-maafan dengan kerabat, sanak saudara, tetangga, dan teman sejawat. Akan tetapi, apa ya  itu yang akan dicapai? Setelah selesai Puasa Ramadahan dan merasa dirinya suci, yang kemudian sering terjadi adalah euphoria (kesenangan yang berlebihan) baik itu berpakaian dan makan yang sering berlebihan (israf), bahkan serasa lepas dari penjara untuk berkata-kata kotor kaembali, ghibah (bergunjing), atau bahkan saling memfitnah.

Coba marilah kita bermuhasabah (introspeksi diri), tujuan hakiki kita melaksankan puasa Ramadhan dan sunah-sunahnya itu apa?. Tujuan kita melaksanakan perintah puasa adalah la’alakum tattaqun (supaya menjadi orang yang bertaqwa). Artinya, mestinya setiap tahun ada peningkatan ketaqwaan pada diri kita, jangan sampai ketaqwaaan kita hanya stagnasi atau bahkan menurun setelah puasa Ramadhan. Mestinya apa yang telah kita capai pada waktu puasa Ramadhan dengan selalu tilawah (tadrus Qur’an), Qiayamul lail (Tarawih dan witir) jangan sampai Ramadhan habis. maka habis sudah amalan-amalan sunah tersebut. Semoga kita selalau diberi keistiqomahan.

Dilematis Dakwah

Ramadhan tahun ini ketika saya harus menjadwalkan orang-orng yang harus ngisi kultum jadi agak kesusahan. Dari satu sisi ada perintah balighu ‘anni walau ayyah (sampaikanlah walau hanya satu ayat) dengan demikian mestinya setiap orang dapat menjadi pengisi kultum, karena walaupun satu ayat saja bekalnya bisa dia sampaikan. Bahkan kalau saya ingat satu kata-kata seorang ulama nahnu du’at qabla kulli syai’ (kami ini seorang dai sebelum menjadi siapapun atau menjadi apa saja). Mestinya sudah menjadi suatu keniscayaan bahwa kita semua harus menjadi dai sebelum menjasi apa saja. Sebelum kita menjadi guru, dokter, ibu rumah tangga, pegawai negeri, pegawai swasta, dari RT hingga menjadi Presiden sekalipun mestinya kita menjadi dai terlebih dahulu. Bertolak dari itu mestinya setiap muslim siapapun siap untuk mengisi pengajian atau bahkan hanya kultum. Maka saya pun menjadwalkan siapa saja yang mau.

Di sisi lain, apa yang terjadi ternyata dari pengkultum ada yang bisa menyampaikan pas dengan konteks sekarang atau kondisi mustami’ (pendengar), tetapi tidak sedikit yang isinya tidak pas dan bahkan sedikit mengacaukan pemahaman yang benar. Terutama melihat kondisi mustami’ yang masih awan bahkan banyak anak-anak. Beberepa materi mestinya disampaikan secara terstruktur dalam pengajian yang khusus dengan kelompok yang lebih kecil.

Sungguh dilematis dan ada kegundahan dalam diriku bagaimana meramu atau menyajikan dakwah ini dengan jitu sehingga bisa diteriama oleh semua tingkatan. Ternyata berdakwah tidak hanya asal hafal atau mengerti satu ayat, tetapi memang harus dibekali dengan pemahaman yang cukup dan persiapan mengetahui audien (mustami’) nya atau tingkatannya kayak apa? Tidak sekedar hanya menyampaikan. Oleh karena, akibatnya kadang bisa fatal. Bisa jadi malah justeru menjadi pemahaman yang salah. Atau mungkin pemahamannya sudah benar tapi belum harus disampaikan pada tingkatan mustami’ yang demikian.

Sungguh ini suatu pelajaran yang sangat berharga dan semoga bisa menjadikan ibrah pada diriku, untuk mengatur langkah dakwah ini supaya lebih rapi. Semoga Allah selalu membimbingku. Silahkan kepada ikhwan dan akhwat yang mempunyai saran agar penataan dakwah ini lebih rapi saya ucapakn terima kasih. Jazakumullah khairan. Syukron.

Malam Lailatul Qadar

Dalam Tafsir Razi dikisahkan : Ketika Rasulullah bercerita tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang berjihad di jalan Allah dari pagi sampai sore, kemudian dari sore sampai pagi lagi beribadah dan berzikir kepada Allah  selama seribu bulan, para sahabat pada takjub. Kemudian malaikat Jibril datang dan menyampaikan Surat Al Qadr 1-3. Yang memberitahukan adanya malam, yang satu malam tersebut lebih baik dari seribu bulan atau kurang lebih 83 tahun.

Dalam riwayat lain:

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fii sabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan S.97:1-3, bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama 1000 bulan.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi yang bersumber dari Mujahid.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di zaman Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukan selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan S.97:1-3 yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal 1000 bulan Bani Isra’il tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid.)

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (Surat Al Qadr 1-3.)

Ya ayyuhal mukminun, mari segera kita isi hari-hari terakhir Ramadhan tahun ini dengan ibadah yang seoptimal mungkin. Apabila memungkinkan lakukan i’tikaf, jangan ditunda-tunda jika ada kesempatan. Memang budaya kita belum memungkinkan untuk melakukan i’tikaf secara maksimal. Alangkah indahnya jika suatu hari nanti pemimpin-pemimpin kita sudi kiranya meliburkan baik kantor pemerintahan atau swasta di 10 malam terakhir untuk memberikan kesempatan untuk i’tikaf. Maka insya Allah keserakahan akan nikmat dunia benar-benar dapat dikurangi.

Mari kita isi 10 hari terakhir ini dengan amal-amal sholeh dan kualitas ibadah yang optimal  yang diiringi dengan iman dan hanya mencari ridho Allah. Insya Allah semoga Allah benar-benar akan mengampuni dosa kita yang telah lalu. Amin amin ya rabbal ‘alamin.

Al Qadr 3

97. Al Qadr

3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

Jangan Suka Menunda

Dan barangsiapa yang bersunggguh, maka sesungguhnya kesungguhannya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukaa n sesuatu) dari semesta alam. 29. Al ‘Ankabuut 6.

Kalau kita mengambil ibrah dari ayat di atas maka tidak layak seorang muslim bermalas-malasan, karena kesungguhan dan usahanya itu akan kembali kepadanya juga. Kalau kita bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh maka keinginan kita tentang dunia akan dapat dicapai dan mestinya sebagian dari harta kita itu kita zakatkan dan kita shodaqohkan. Sebenarnya Allah tidak menginginkan zakat atau shodaqoh kita, semuanya itu hanyalah merupakan sarana untuk amal kita, dan yang pasti akan kembali kepada kita sebagai amal sholih, karena Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan harta kita.

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, 8. Al Kahfi 23.

Budaya yang sulit dihilangkan dari sifat manusia yaitu menunda-nunda, ah besok kan masih bisa. Tapi sesungguhnya siapa yang tahu akan ajal kita, bisa jadi yang hari ini seharusnya bisa kita lakukan tapi karena keengganan, kita malsa kerjakan, eee  ternyata besok adalah saat ajal kita. Hal yang semestinya dapat kita kerjakan sehingga terabaikan. Ibadah yang mestinya dapat kita lakukan karena kita tunda dan terlanjur ajal menjemput maka sia-sialah waktu kita. Oleh karena itu, jika telah selesai suatu pekerjaan atau kita melakukan ibadah maka segera lakukan pekerjaan dan ibadah yang   dapat dilakukan.

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (94. Alam Nasyrahn (Al Insyirah) : 7.)