Salah Kaprah dan Salah Pemahaman di Sekitar hari Raya Idul Fitri
(1) Kesalahan Makna Ucapan : Minal ‘Aidin Wal Faizin. ( من العاءدين و الفاءيزين )
Ucapan Minal ‘Aidin Wal Faizin sering diartikan Mohon Maaf dan Batin. Sebenarnya terjemahan ucapan Minal ‘Aidin Wal Faizin adalah dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Mungkin maksud lengkapnya adalah: ”Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Allah) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu).” Yang juga perlu diketahui ucapan Minal ‘Aidin Wal Faizin tidak terdapat dalam Alquran dan As Sunah (Al Hadis). Ucapan ini hanya dibuat para ulama saja.
Sedangkan di hari Raya Idul Fitri para sahabat Rasulullah biasa mengucapkan kalimat Taqabalallaahu minnaa wa minkum di antara mereka, artinya semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan. Para sahabat juga biasa menambahkan: shiyamana wa shiyamakum, semoga juga puasaku dan kalian diterima Allah swt.
(2) Kesalahan Berjabat Tangan kepada yang Bukan Muhrimnya
Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba orang saling bermaaf-maafan dengan berjabat tangan. Mereka dengan khusyuk saling memaafkan, bahkan para artis dan selebritis tidak sedikit yang diikuti dengan cipika cipiki (cium pipi kanan dan cium pipi kiri). Jelas sekali maksudnya sebenarnya baik saling memaafkan supaya dosanya bias terhapus di Hari Raya Idul Fitri setelah satu bulan puasa Ramadhan. Tapi apakah benar tradisi saling berjabat tangan tersebut. Ternyata justeru kita memulai membuat dosa dengan berjabat tangan kepada orang yang bukan muhrimnya apalagi diikuti cipika cipiki. Rasulullah telah mengisyaratkan kepada kita :
- ” Lebih baik ditembus dengan besi yang panas dari dubur sampai kepala nya daripada harus menyentuh wanita yang bukan muhrim-nya ” (HR. At Tirmidzi)
- ” Lebih baik berdesakan dengan babi yang berlumuran lumpur dan berbau busuk dari pada harus berdesakan dengan wanita yang bukan muhrim-nya ” (HR. At Tirmidzi)
- Dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.Artinya : Andaikan ditusukkan ke kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum besi, yang demikian itu lebih baik daripada dia harus menyentuh wanita yang tidak dibolehkan baginya . (Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Al-Kabir XX/211 dengan isnad hasan.
(3) Ba’da Kupat (Hari Raya Ketupat)
Pada tanggal 8 Syawal sebagian besar masyarakat Jawa merayakan Ba’da Kupat (Hari Raya Ketupat) entah kapan tradisi ini dimulai. Kalau kita runut kepada Hadis tentang disunahkannya puasa Sunah 6 hari di bulan Syawal.
Dari Abi Ayub ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa melaksanakan puasa bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka berarti dia telah melakukan puasa setahun penuh ” (HR. Muslim dan Abi Dawud)
Dari hadis di atas jelas bahwa kita disunahkan puasa 6 hari di bulan Syawal. Lalu apa kaitan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal dengan Ba’da Kupat? Ini masih dugaan saya mungkin para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa ini belum sempat menjelaskan saja kepada umat ini. Kalau kita perhatikan puasa Syawal 6 hari berarti dilakukan tanggal 2, 3, 4, 5, ,6 , dan 7 Syawal. Berarti tanggal 8 Syawal Hari Raya (Ba’da Kupat). Jadi, sebenarnya ba’da kupat ini untuk merayakan bagi orang-orang yang puasa Syawal 6 hari. Ironisnya justeru kebanyakan yang merayakan Ba’da Kupat ini tidak pernah melakukan puasa Syawal 6 Hari. Mestinya yang lebih berhak merayakan Ba’da Kupat ini adalah orang-orang yang melaksankan puasa 6 hari di bulan Syawal. Yang perlu lebih menjadi catatan jangan sampai kalau tidak kupatan kita berdosa, karena kupatan memang tidak ada tuntunannya dalam Alquran dan As Sunah.
Mungkin boleh boleh saja ba’da kupat itu dilestarikan hanya sebagai penanda bahwa kita disunahkan melakukan puasa 6 hari di Bulan Syawal. Kalau belum mampu melaksanakan mulai tanggal 2 atau pekan-pekan awal karena makanan memang masih sangat menggiurkan. Baru pekan kedua dan seterusnya dapat melaksanakan sunah puasa Syawal ya dianggap saja Ba’da Kupat untuk DP merayakan puasa Syawal kita. Karena Ba’dan dulu baru puasa.
(4) Menunda Meminta Maaf Hingga Hari Raya Idul Fitri
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (3. Ali ‘Imran ayat 133-134)
Sebenarnya dari ayat di atas jelas bahwa kita diperintah bersegera memminta maaf. Jangan menunda nunda harus menanti hari raya Idul Fitri. Kebiasaan orang menumpuk kesalahannya baru di hari raya Idul Fitri kita menumpahkan kesasalahan tersebut untuk dapat dimaafkan.
(5) Euphoria yang Berlebihan
Setelah selesai Ramadhan sering kita merasa lepas dari penjara. Yang tadinnya kita selalu ngerem untuk ghibah, berkata kotor, berbuat jahil. Kita kayaknya langsung Euphoria kayak bebas untuk melalukan kesalahan-kesalahan tersebut. Perbuatan dan amalan yang baik yang kita lakukan di bulan Ramadhan ikut ludes dengan masuknya bulan Syawal, padahal mestinya bulan Syawal itu merupakan bulan peningkatan. Dan tujuan puasa kita mestinya adalah la’alakum tattaqun supaya menjadi orang taqwa dalam arti tiap tahun ketaqwaaanya selalu meningkat. Jangan sampai apa yang telah diupayakan dan dicapai di bulan Ramadhan seperti tilawah (tadarus), qiyamul lail, sadaqah, setelah bulan Ramadhan habis maka ikut habis juga. Semoga kita termasuk orang-orang yang ketaqwaannya meningkat dan senantiasa diberi keistiqamahan. Amin ya rabbal ‘alamin.